Pengembangan Model Agroforestry Tanaman Buah Lokal dan Rempah Bersama Masyarakat di KHDTK Gunung Geulis
Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Geulis saat ini sedang memprioritaskan lahan-lahan terdegradasi dan bertegakan jarang untuk direhabilitasi terutama di wilayah yang berbatasan dengan Desa Sawahdadap. Areal-areal di wilayah ini masih dimanfaatkan lahannya oleh masyarakat untuk pengembangan tanaman pertanian, namun lahan cenderung semakin kritis dari waktu ke waktu karena kurangnya pohon-pohon.
Suatu pendekatan efektif diperlukan untuk mengembalikan fungsi Kawasan dengan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat adalah pengembangan agroforestry multistrata memadukan tanaman konservasi tanah, buah-buahan yang sesuai dengan karakteristik lahan dan tanaman rempah (jahe-jahean). Hal ini selain mendukung pemberdayaan masyarakat kelompok tani hutan untuk memperoleh nilai manfaat ekonomi dari Gunung Geulis, juga menjadi sarana edukasi yang sangat penting bagi dunia kehutanan dan pertanian. Model agroforestry ini juga diharapkan dapat meningkatkan tutupan vegetasi pada areal-areal terdegradasi agar fungsinya dalam mendukung tata hidrologi dan tanah menjadi efektif.
KTH SAWAHDADAP yang diketuai oleh Wa Tardin yang sangat kolaboratif dan memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian Kawasan menjadi mitra yang efektif untuk mewujudkan kegiatan ini. Sistem pengelolaan lahan dengan model agroforestry di beberapa lokasi pada Blok Sawahdadap telah digunakan sebagai model yang cocok untuk mengembangkan model yang serupa pada lahan-lahan terdegradasi di wilayah ini. Atas dukungan kuat dari ITB dan pemangku kepentingan Desa Sawahdadap, akhirnya pada Juli hingga Oktober telah berhasil dilakukan pengembangan agroforestry yang memadukan jenis-jenis pohon buah-buahan dan rempah-rempah seperti jahe-jehean dan lada, serta tanaman pohon kayu-kayuan yang secara eksisting sudah ada bersama dengan kopi dan pisang.
Maksud agroforestry pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kualitas lahan terdegradasi dan efisiensi penggunaan lahan, artinya dari sebidang lahan bisa dihasilkan berbagai produk yang bernilai ekonomi. Adapun tujuan pengembangan model agroforestry ini antara lain :
- Pemanfaatan lahan secara optimal yang ditujukan kepada produksi hasil tanaman berupa kayu dan non kayu secara berurutan atau bersamaan
- Pembangunan secara multi fungsi dengan melibatkan peran serta masyarakat secara aktif.
- Meningkatkan pendapatan petani yang tergabung dalam KTH dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia dan meningkatkan kepedulian warga masyarakat terhadap upaya peningkatan kualitas lingkungan kawasan.
- Terbinanya kualitas daya dukung lingkungan bagi kepentingan penguatan fungsi lindung Kawasan dan ekonomi masyarakat
Manajer KHDTK, Dr. Endang Hernawan, MT menyampaikan bahwa di Kawasan ini telah berhasil ditanam 1000 bibit pohon pada areal seluas 2 ha dan Sebagian lagi sebagai tanaman selipan diantara tanaman-tanaman yang sudah ada pada areal eksisting seluas 3 ha. Terdapat tiga jenis tanaman buah-buahan seperti alpukat, mangga kuweni dan jeruk mulai dikembangkan di areal ini. Beberapa tanaman kayu-kayuan yang sudah ada di areal ini adalah tisuk, suren pinus dan mahoni. Sedangkan jenis-jenis rempah berupa jahe-jahean akan dikembangkan di bawah tegakan untuk menggantikan jenis-jenis yang kurang ramah lingkungan (Reported by Ichsan Suwandhi, 14/01/2023)

Contoh lokasi model agroforestry di Desa Sawahdadap

Calon lokasi sasaran untuk demplot agroforestry di Blok Nangkod Ds Sawahdadap

Contoh lokasi eksisting di Ds Sawahdadap yang akan dioptimalkan menjadi model agroforestry mengganti tanaman bawah tegakan menggunakan jahe-jahean
No Comments