Enter your keyword

Menjadi Mahasiswa Kebumian di Era AI: Mencari Peran Manusia yang Tidak Tergantikan Surat terbuka untuk para mahasiswa Ilmu Kebumian

Menjadi Mahasiswa Kebumian di Era AI: Mencari Peran Manusia yang Tidak Tergantikan Surat terbuka untuk para mahasiswa Ilmu Kebumian

Menjadi Mahasiswa Kebumian di Era AI: Mencari Peran Manusia yang Tidak Tergantikan

Surat terbuka untuk para mahasiswa Ilmu Kebumian

Para mahasiswa kebumian yang saya banggakan,

Pada saat penyambutan mahasiswa baru angkatan 2025 di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebmian (FITB) — ITB , saya mendapat sebuah pertanyaan dari salah seorang mahasiswa:

Apakah masa depan karir ilmu kebumian akan tergantikan oleh kecerdasan buatan?

Pertanyaan ini sangat beralasan, mengingat saat ini kita hidup pada zaman dimana hampir semua fungsi kecerdasan manusia — berpikir, menganalisis, hingga menghasilkan ide — dapat diambil alih oleh mesin cerdas.

Saya tidak mampu menjawab pertanyaan itu secara langsung dan meyakinkan. Bukan karena tidak ada jawaban, tetapi karena dalam benak saya justru muncul sebuah pertanyaan yang lebih mendasar:

Fungsi apa yang masih menjadi peran manusia?

Sesungguhnya, ini bukan sekadar pertanyaan yang perlu dijawab. Ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak — dan mulai memahami diri kita sendiri secara lebih dalam.

Barangkali, tantangan kita hari ini bukanlah bagaimana menyaingi mesin cerdas, melainkan bagaimana menggali dimensi lain dari manusia yang tidak akan pernah bisa digantikan.


Para mahasiswa yang saya cintai,

Mengetahui adalah langkah awal. Memahami adalah langkah berikutnya. Namun makna hanya lahir ketika kita mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan.

Artinya, belajar tidak berhenti pada mengetahui sesuatu, tetapi pada memahami mengapa sesuatu itu penting. Dalam konteks ilmu kebumian, Anda tidak hanya dituntut untuk menguasai data dan teori, tetapi juga untuk mengaitkannya dengan kehidupan, nilai, dan masa depan bumi yang kita huni.

Di sisi lain, mesin cerdas dapat mengolah informasi menjadi pengetahuan, namun ia tidak memahami mengapa pengetahuan itu penting. Bahkan, ia tidak mengerti bagaimana pengetahuan berhubungan dengan kehidupan yang dijalani. Oleh karena itu, teruslah mengasah kemampuan memberi makna, karena hal itu tidak dapat digantikan oleh mesin cerdas.

Dalam ilmu kebumian, banyak persoalan dihadapkan pada jawaban yang tidak sepenuhnya pasti. Hal ini menimbulkan dilema terhadap konsekuensi nyata dari setiap pilihan yang diambil. Di sinilah tanggung jawab dan integritas menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan analitis.

Di sisi lain, mesin cerdas mampu menawarkan berbagai opsi jawaban, tetapi ia tidak hidup dengan konsekuensi dari pilihan tersebut. Ia tidak menanggung risiko moral, tidak merasakan dampak keputusan, dan tidak berada dalam situasi ketidakpastian yang nyata. Oleh karena itu, kemampuan menilai dan mengambil keputusan harus terus Anda latih — karena di situlah peran manusia tidak tergantikan.

Dalam teori pengukuran bumi, kita diperkenalkan pada keterbatasan alat ukur dan juru ukur. Namun, dari kesadaran akan keterbatasan itu justru lahir berbagai teori dan prosedur pengukuran yang semakin canggih, sehingga harapan untuk memahami bumi secara utuh tetap menyala.

Di sisi lain, mesin cerdas tidak memiliki kesadaran dan harapan. Ia tidak memiliki pengalaman batin yang mendorongnya untuk bertanya, memilih, dan mencipta. Oleh karena itu, peliharalah kesadaran akan keterbatasan dan harapan, karena justru dari situlah manusia tumbuh — sesuatu yang tidak dimiliki oleh mesin.


Para mahasiswa yang saya hormati,

Melalui refleksi ini, saya ingin Anda bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah saya sedang belajar untuk menjawab soal ujian, atau untuk memahami bumi?”
“Apakah saya mengumpulkan pengetahuan, atau membangun makna?”
“Apakah saya memandang bumi sebagai objek studi, atau sebagai sesuatu yang bernilai dan perlu dijaga?”

Sesungguhnya, masa depan ilmu kebumian tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, tetapi oleh cara kita memahami dan memaknai bumi.

Dan Anda adalah generasi yang akan menentukan arah tersebut.

Salam Hangat,

Dudy D. Wijaya (Dekan FITB 2025-2030)

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesia