Enter your keyword

Potensi Fauna

 Potensi Fauna KHDTK Gunung Geulis

 

Burung 

 

Berdasarkan hasil pemantauan, dijumpai 24 spesies dari 18 famili dengan total sebanyak 396 individu.  Sebagian besar spesies burung yang ditemukan memiliki preferensi terhadap habitat semak belukar yang berfungsi sebagai tempat persembunyian dan sumber makanan. Jenis-jenis pohon di kawasan Gunung Geulis dan Bukit Jarian juga turut berfungsi sebagai tempat tinggal dan sumber makanan bagi beberapa spesies-spesies burung di kawasan tersebut.

 

Berdasarkan Penggunaan tingkat pertemuan untuk memperlihatkan skala urutan kelimpahan sederhana, sebagian besar spesies burung di kawasan Gunung Geulis dan Bukit Jarian tergolong Umum, Sering, dan Tidak Umum. Berikut merupakan grafik kelimpahan relatif jenis burung yang dijumpai di KHDTK Gunung Geulis

 

 

Spesies paling umum di Gunung Geulis dan Bukit jarian Collocalia esculenta (Walet Sapi) dan Pycnonotus goiavier (merbah cerukcuk)

 

 

 

Berikut merupakan beberapa contoh spesies burung yang tergolong sering dijumpai:

 

 

 

 

 

 

 

Adapun beberapa contoh spesies burung yang tergolong tidak umum dijumpai adalah sebagai berikut

 

 

 

 

 

 

 

Serangga

Spesies serangga yang ditemukan sebanyak 22 spesies, 13 spesies diantaranya teridentifikasi sampai spesies, sedangkan hingga tingkat famili sebanyak 8 spesies dan sub famili 1 spesies. Nilai indeks keragaman spesies serangga Gunung Geulis adalah 2,057 yang menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga di kawasan Gunung Geulis tergolong SEDANG dengan produktivitasnya cukup, serta kondisi ekosistem yang cukup seimbang dengan tekanan ekologi sedang.

Semua jenis serangga yang ditemukan di kawasan Gunung Geulis merupakan serangga yang umum dan mudah dijumpai. Spesies serangga yang paling melimpah dibanding spesies lainnya adalah Formica sp. (nilai indeks kelimpahan (pi) sebesar  0,26) dan Isotomurus palustris (dengan nilai indeks kelimpahan sebesar 0,23). Kedua spesies serangga ini merupakan yang paling umum dijumpai dimana saja, mulai dari pesisir pantai sampai ke pegunungan.

 

Mamalia

Lokasi kawasan yang relatif berdekatan dengan Gunung Kareumbi dan Gunung Manglayang memungkinkannya adanya pengaruh hewan dari kedua kawasan tersebut. Area Hutan Lindung Gunung Geulis yang tidak terlalu luas dengan kondisi geografis yang secara umum tidak terlalu curam memungkinkan hewan-hewan dapat mengakses hampir seluruh kawasan. Namun demikian kondisi alam kawasan yang relatif sangat kering pada musim kemarau dan tutupan kanopi pohon yang relatif sedikit menjadi penghambat bagi mobilitas hewan-hewan khususnya mamalia besar. 

Berikut merupakan potensi jenis Mamalia yang telah ditemukan di kawasan KHDTK Gunung Geulis.

 

 

Berdasarkan informasi dari masyarakat lokal, pada kawasan Gunung Geulis, khususnya pada daerah lembah, masih ditemukan keberadaan Trenggiling (Manis javanica) yang berstatus sebagai hewan yang dilindungi dengan kategori endangered atau terancam punah.

 

 

Meong congkok atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) merupakan salah satu jenis kucing liar yang paling umum ditemukan di Pulau Jawa. Hewan ini dapat menyesuaikan diri cukup baik di area bukaan kebun, tutupan semak, hutan dan hutan terbuka. Pada 13 titik temuan feces di Gunung Geulis dan Bukit Jarian ditemukan berisi rambut dan belulang tikus. Selain itu, juga terdapat sisa pemangsaan burung yang dicurigai sebagai sisa predasi P. bengalensis. Kehadiran Meong congkok di areal Gunung Geulis menandakan masih cukupnya ketersediaan hewan-hewan kecil, seperti tikus, burung, dan kadal. Perannya secara ekologis diduga sebagai salah satu predator puncak dalam ekosistem kawasan Gunung Geulis. Status konservasi Prionailurus bengalensis adalah LC (least concern) dengan tingkat resiko kepunahan yang rendah

 

 

Tupai kekes (Tupaia javanica) merupakan mamalia kecil arboreal yang berstatus konservasi LC (least concern) dengan tingkat resiko kepunahan yang rendah. Tupai ini memakan terutama buah-buahan dan serangga yang diketahui hidup hingga ketinggian 1700 mdpl. Di kawasan Gunung Geulis Tupai kekes sering ditemukan melalui perjumpaan langsung dan keberadaan fesesnya. Hewan ini memegang peranan sebagai penyebar biji beberapa jenis tumbuhan makanannya, juga sebagai mangsa bagi predator-predator seperti elang atau ular.

 

 

Musang luwak atau careuh (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan mamalia dari famili Viveridae yang paling umum dijumpai di Pulau Jawa. Hewan ini biasanya menghuni hutan primer, sekunder, kebun  hingga hidup di antara pemukiman warga. Hal tersebut didukung oleh tingkat perjumpaan yang cukup tinggi disertai temuan 4 feces Paradoxurus hermaphroditus (Musang luwak). Careuh adalah hewan omnivora yang lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan dan biji-bijian, serta hewan-hewan kecil yang bisa ditangkapnya. Pencernaannya yang singkat menyisakan biji yang dimakannya relative utuh dalam fesesnya, sehingga banyak informasi mengatakan luwak akan memakan hanya biji-bijian yang benar-benar sudah matang. Perilaku makannya ini membuatnya memainkan peran penting sebagai polinator dan agen dispersal benih bagi beberapa jenis tumbuhan

 

 

 

Garangan (Herpestes javanicus) terlihat kehadirannya di sekitar areal makam di puncak Gunung Geulis. Hewan berstatus LC (least concern) ini adalah pemakan serangga yang biasa ditemukan pada ekosistem semak belukar dan hutan.  Pada kasus tertentu hidup berdampingan dengan manusia di perkebunan dan peternakan. Perilaku oportunisnya ini menyebabkan garangan sering menjadi hama bagi peternak unggas.

 

 

Cynopterus brachyotis atau kelelawar pemakan buah juga kerap terlihat di area Cisempur. Berdasarkan ukuran tubuh dan feces teridentifikasi kehadiran kelelawar pemakan  buah yang berperan sebagai penyebar benih tumbuhan buah yang dimakannya.

 

 

 

 

Babi hutan (Sus scrofa) merupakan mamalia berstatus LC (least concern) yang sering dijumpai oleh pemburu di kawasan Gunung Geulis dan Bukit Jarian. Sejauh ini belum ada temuan yang lebih lengkap mengenai babi hutan, akan tetapi pemantauan akan terus dilakukan.

 

 

Dari komposisi hewan yang diketahui, dapat diperkirakan bahwa Ekosistem Gunung Geulis sedang berada dalam tahap suksesi kembali menjadi hutan. Hal tersebut didukung oleh keberadaan jenis hewan yang berperan membantu penyebaran benih tumbuhan dalam kawasan, seperti tupai, musang, dan kelelawar buah. Sedangkan meong congkok dan peusing menunjukkan bahwa kawasan Gunung Geulis dulunya merupakan sebuah ekosistem hutan yang cukup bisa menyokong kehidupan jenisnya secara berkelanjutan.

Herpetofauna

Herpetofauna yang ditemukan saat pemantauan awal di kawasan Gunung Geulis dan Bukit Jarian terdiri dari tiga jenis reptil dan satu jenis amfibi. Keberadaan herpetofauna dapat mengindikasikan adanya sumber air di daerah tersebut, terkait dengan kebutuhan hidup herpetofauna itu sendiri, terutama amfibi.

No Kelas Nama ilmiah                  Nama lokal Status Lokasi
1 Reptil Cyrtodactylus sp.             Tokek LC Puncak
2 Reptil Sphenomorphus temminckii   Kadal LC Cisempur
3 Reptil Eutropis multifasciata     Kadal kebun LC Tersebar
4 Amphibi Microhyla achatina          Katak  LC Bukit Jarian 

 

Keterangan: LC = least concern  (resiko rendah)

Berikut merupakan gambaran jenis reptil yang banyak ditemukan di kawasan Gunung Geulis. Salah satu amfibi yang banyak ditemukan di kawasan Gunung Geulis adalah katak dengan jenis Microhyla achatina. 

 

Herpetofauna sangat bergantung pada tingkat kelembaban ekosistem. Kondisi hutan kering pada musim kemarau di Gunung Geulis menjadi pembatas bagi hewan hewan amfibi dan ular-ular yang umumnya memangsa katak. Selain itu luasan kawasan yang sempit juga membatasi kebanyakan hewan besar terutama karnivor untuk dapat memiliki ukuran populasi yang berkelanjutan. Sejarah penggunaan lahan kawasan sebagai ladang masyarakat juga diperkirakan mengakibatkan hilangnya sebagian besar hewan-hewan asli yang sempat hidup di kawasan ini.