Prof. Zulfiadi Zulhan Menjadi Narasumber dalam Forum AEER 2025 Bahas Dekarbonisasi Industri Baja
Jakarta, 29 Januari 2026 – Prof. Dr.-Ing. Ir. Zulfiadi Zulhan, ST., MT., IPU. (Dosen Teknik Metalurgi, Institut Teknologi Bandung) diundang sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan Peluncuran Publikasi Catatan Akhir Tahun (CATAHU) AEER 2025 yang diselenggarakan oleh Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER). Kegiatan ini mengusung tema besar:
“Tinjauan Industri Baja Indonesia 2026: Tekanan Geopolitik Global dan Tuntutan Industri Hijau”
Peluncuran CATAHU AEER 2025 menghadirkan para pembicara Timotius Rafael (Peneliti Lingkungan AEER sekaligus penulis publikasi), Widodo Setiadharmaji (Steel and Mining Industry Expert, SM Insights), Prof. Zulfiadi Zulhan dan Thomas Tumangger (Konsultan Industri AEER). Diskusi dimoderatori oleh Adela Damika Putri – Engagement Officer in Energy and Sustainable Business, World Resources Institute (WRI) Indonesia.
Dalam forum tersebut, Prof. Zulfiadi membawakan materi berjudul: “Industri Baja: Tuntutan Industri Hijau”. Acara ini membahas secara komprehensif isu dekarbonisasi industri baja nasional sebagai strategi penguatan daya saing industri, ketahanan ekonomi, dan transformasi menuju industri hijau berbasis standar keberlanjutan global.
Dalam paparannya, Prof. Zulfiadi menegaskan bahwa baja bersih (green steel) secara teknologi sudah dapat diproduksi dengan teknologi yang tersedia saat ini, melalui jalur produksi:
- Hydrogen Direct Reduction (H‑DR) – Electric Arc Furnace (EAF) – Ladle Furnace (LF) – Continuous Casting Machine (CCM), atau
- Hydrogen Direct Reduction (H‑DR) – Electric Smelting Furnace (ESF) – Basic Oxygen Furnace (BOF) – Ladle Furnace (LF) – (Vacuum Degassing) – Continuous Casting Machine (CCM), sebagai pengganti rute konvensional: Blast Furnace (BF) – Basic Oxygen Furnace (BOF) – Ladle Furnace (LF) – (Vacuum Degassing) – Continuous Casting Machine (CCM).
Menurut Prof. Zulfiadi, transisi menuju industri baja hijau hanya dapat terwujud apabila memenuhi beberapa prasyarat utama, yaitu:
- Ketersediaan listrik terbarukan dalam
skala besar dan harga yang kompetitif. Pemanfaatan listrik sebagai tulang
punggung energi industri, meliputi:
- produksi gas hidrogen,
- energi peleburan di EAF/ESF,
- penggerak motor listrik,
- sistem penerangan,
- serta kebutuhan operasional pabrik lainnya.
- Kesiapan pasar (willingness to pay), yaitu kesediaan konsumen untuk membeli baja hijau dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan baja konvensional.
Ia menegaskan bahwa tantangan dekarbonisasi industri baja tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga bersifat sistemik, mencakup aspek energi, kebijakan, infrastruktur, model bisnis, dan penerimaan pasar.
Forum AEER menegaskan bahwa dekarbonisasi industri baja merupakan peluang strategis nasional, tidak hanya untuk menurunkan emisi karbon, tetapi juga untuk:
- memperkuat daya saing industri nasional,
- mengurangi ketergantungan impor bahan baku,
- membuka akses ke pasar global berbasis standar keberlanjutan,
- serta membangun ketahanan industri jangka panjang.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi lintas sektor antara akademisi, industri, peneliti, dan masyarakat sipil dalam membangun peta jalan transformasi industri baja Indonesia menuju industri rendah karbon dan berkelanjutan.
Partisipasi Prof. Zulfiadi Zulhan dalam forum ini menegaskan peran aktif akademisi Indonesia dalam merumuskan arah transformasi industri berat nasional secara ilmiah, realistis, dan terintegrasi menuju masa depan industri baja yang hijau dan berdaya saing global.

No Comments