Enter your keyword

Kisah dari Tetesan Air Gua: Kisah Kepunahan Homo floresiensis dan Iklim yang Berubah

Kisah dari Tetesan Air Gua: Kisah Kepunahan Homo floresiensis dan Iklim yang Berubah

Kisah dari Tetesan Air Gua: Kisah Kepunahan Homo floresiensis dan Iklim yang Berubah

Kisah dari Tetesan Air Gua: Kisah Kepunahan Homo floresiensis dan Iklim yang Berubah

Disarikan dari makalah orisinal dan ditulis ulang oleh: Mika Rizki Puspaningrum

Homo floresiensis, juga dikenal sebagai “hobbit” karena perawakannya yang kecil, merupakan kerabat manusia modern yang diperkirakan punah sekitar 50.000 tahun lalu. Sesuai namanya, manusia kerdil ini ditemukan di Flores pertama kali di Gua Liang Bua pada tahun 2003. Penemuan fosil hobbit selanjutnya di sedimen berumur yang lebih tua di Cekungan Soa pada tahun 2014 memberikan data baru bahwa Homo floresiensis telah ada di Pulau Flores sejak setidaknya sejuta tahun yang lalu. Perdebatan mengenai penyebab kepunahan hobbit setelah lebih dari sejuta tahun hidup di Flores merupakan pertanyaan kunci di dunia paleoantropologi.

Kiri: fosil Homo floresiensis yang ditemukan di Liang Bua, kanan: rekonstruksi H. floresiensis oleh Peter Schouten

Studi baru kami (diterbitkan tanggal 8 Desember 2025 di Nature Communications Earth and Environment), memberikan bukti bahwa periode kekeringan ekstrem yang dimulai sejak 61.000 tahun yang lalu mungkin berkontribusi terhadap kepunahan hobbit. Bukti ini didapatkan dari speleothem dan proxy curah hujan lokal yang dipasangkan dengan data isotop dari gajah purba Stegodon florensis yang merupakan buruan utama Homo floresiensis. Speleothem atau atau stalagmit tumbuh lapis demi lapis dari tetesan air yang mengalir di dalam gua. Seiring dengan pertumbuhan lapisannya, komposisi kimia tiap lapisan berubah dan mencatat sejarah perubahan iklim. Speleothem yang tumbuh selama periode hidup hingga menghilangnya Homo floresiensis ini didapatkan di Gua Liang Luar yang terletak di kompleks gua yang sama dengan Liang Bua.

Saat ini pola iklim di Flores adalah monsun dengan curah hujan tinggi selama November hingga Maret dan lebih kering sepanjang Mei hingga September. Namun dari model geokimia gabungan isotop oksigen dan Mg/Ca dari speleothem memberikan bukti bahwa selama periode glasial terakhir terdapat variasi yang signifikan baik dalam jumlah curah hujan maupun waktu musimannya. Rasio isotop oksigen (δ18O) yang diukur dari tiap lapisan pada speleothem memberikan informasi mengenai perubahan kekuatan monsun. Sementara itu, rasio magnesium terhadap kalsium menunjukkan jumlah curah hujan totalnya. Kombinasi kedua pengukuran yang dipasangkan dengan penanggalan, kita dapat secara detil merekonstruksi jumlah curah hujan saat musim hujan, musim kemarau dan curah hujan tahunan.

Dari hasil analisis speleothem, didapatkan tiga fase iklim utama. Antara 91.000 dan 76.000 tahun yang lalu, iklim lebih basah daripada saat ini sepanjang tahun. Antara 76.000 dan 61.000 tahun yang lalu, monsun sangat bergantung pada musim, dengan musim hujan yang lebih basah dari sekarang dan musim kemarau yang lebih kering. Kemudian, antara 61.000 dan 47.000 tahun yang lalu, iklim menjadi jauh lebih kering di musim kemarau, mirip dengan yang terlihat di daerah kering di Australia saat ini.

Kaitan perubahan iklim dan menghilangnya Homo floresiensis

Dengan adanya data perubahan iklim yang terdokumentasi dari speleothem, kemudian apa kaitannya dengan respon ekologis Homo floresiensis? Jawabannya justru datang dari gajah berukuran kerdil, Stegodon florensis insularis, yang fosilnya ditemukan bersamaan dengan Homo floresiensis. Gajah kerdil yang masih muda merupakan salah satu mangsa utama para hobbit, sebagaimana terungkap dari tanda sayatan pada tulang di Liang Bua.

Bekas sayatan yang terdapat di permukaan tulang panggul (A) dan tulang rusuk (B) Stegodon florensis insularis dari Liang Bua (Gambar diambil dari van den Bergh dkk., 2009).

Pola isotop oksigen pada gigi Stegodon dari lapisan yang berbeda di Liang Bua ternyata selaras dengan data isotop dari speleothem, sehingga kita bisa secara tepat mendapatkan rentang waktu keberadaan Stegodon dan H. floresiensis yang menyertainya. Berdasarkan data kelimpahan fosil Stegodon, 90%nya terdapat di lapisan yang selaras dengan rentang umur 76.000 hingga 61.000 tahun yang lalu selama iklim dengan perbedaan musiman yang signifikan (iklim “Goldlocks”). Pola musiman kuat tersebut kemungkinan merupakan lingkungan yang ideal bagi gajah kerdil untuk merumput dan bagi H. floresiensis untuk memburunya. Namun, kedua spesies tersebut hampir punah seiring dengan perubahan iklim menuju kondisi yang lebih kering dan pola musiman yang melemah setelah 61.000 tahun yang lalu. Menurunnya curah hujan menyebabkan menipisnya ketersediaan sumber daya, terutama mengeringnya Sungai yang merupakan sumber air minum utama di sekitar gua Liang Bua Dengan demikian, pengerinagn iklim ini memainkan peranan penting dalam pengabaian area sekitar Liang Bua secara progresif oleh Stegodon yang kemudian diikuti oleh H. floresiensis.

Penampang melintang speleothem yang dianalisis dalam studi yang menunjukkan lapisan-lapisan pertumbuhannya. Grafik di atas menunjukkan lini masa kemunculan Stegodon dalam lapisan di Gua Liang Bua

Apakah letusan gunung api dan kehadiran manusia modern juga berkontribusi terhadap kepunahan hobbit?

Kemunculan terakhir fosil Stegodon  dan alat batu di Gua Liang Bua berada di bawah lapisan abu vulkanik yang berumur 50.000 tahun lalu. Namun data ini masih belum cukup untuk memberikan bukti bahwa memang letusan gunung api terdekat merupakan penyebab langsung kepunahan Homo floresiensis dan Stegodon florensis.

Bukti arkeologis kehadiran manusia modern Homo sapiens di Liang Bua baru muncul di lapisan setelah abu vulkanik. Jadi, sampai saat ini kita tidak menemukan bukti bahwa H. sapiens dan H. floresiensis pernah hidup berdampingan. Namun bukti arkeologi dan DNA menunjukkan bahwa H. sapiens telah bermigrasi melintasi pulau-pulau di Indonesia ke Paparan Sahul setidaknya sejak 60.000 tahun yang lalu. Sehingga jika tekanan ekologis akibat kekeringan memaksa H. floresiensis untuk berpindah dari gua menuju daerah pesisir, maka mereka mungkin berinteraksi dengan manusia modern.  Jika demikian, mungkinkah persaingan, penularan penyakit yang dibawa H. sapiens, atau bahkan pemangsaan menjadi faktor penentu bagi kepunahan H. floresiensis. Namun apapun penyebab utamanya, hasil studi ini menyediakan kerangka bagi penelitian-penelitian selanjutnya untuk mengkaji kepunahan H. floresiensis  yang ikonik dalam konteks perubahan iklim yang major.

Dari studi ini pun kita mendapatkan sebuah contoh nyata bahwa peran mendasar ketersediaan air tawar dalam kepunahan salah satu spesies manusia kerabat kita. Hal ini mengingatkan kita bahwa sejarah umat manusia ketersediaan air merupakan hal yang krusial dan bagaimana perubahan pola curah hujan dapat berdampak besar bagi kelangsungan kehidupan manusia, yang bahkan dapat menjadi faktor penyebab kepunahan spesies manusia yang telah hidup lebih dari sejuta tahun.

 

 

 

 

 

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesia