{"id":878,"date":"2019-12-16T16:51:39","date_gmt":"2019-12-16T09:51:39","guid":{"rendered":"http:\/\/dosen.ar.itb.ac.id\/kkstka\/?p=878"},"modified":"2019-12-16T16:51:39","modified_gmt":"2019-12-16T09:51:39","slug":"indah-widiastuti-turut-dalam-pameran-karya-perempuan-arsitektur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/2019\/12\/16\/indah-widiastuti-turut-dalam-pameran-karya-perempuan-arsitektur\/","title":{"rendered":"Indah Widiastuti Turut dalam Pameran Karya Perempuan Arsitektur"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2019\/12\/79530374_2603562956430962_85894926398652416_n.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-886 size-full\" src=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2019\/12\/79530374_2603562956430962_85894926398652416_n.jpg\" alt=\"\" width=\"960\" height=\"720\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2019\/12\/79530374_2603562956430962_85894926398652416_n.jpg 960w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2019\/12\/79530374_2603562956430962_85894926398652416_n-300x225.jpg 300w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2019\/12\/79530374_2603562956430962_85894926398652416_n-768x576.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: right\"><strong><a href=\"https:\/\/www.inilahkoran.com\/berita\/35481\/upi-menggelar-pameran-karya-perempuan-arsitektur\">UPI Menggelar Pameran Karya Perempuan Arsitektur<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kesetaraan gender sudah kian kerap dinikmati oleh perempuan dalam kiprah dan pengakuannya. Namun harus tetap diakui bahwa keperempuanan memiliki karakter yang khas dalam bekerja maupun berpikir. Dalam bekerja dan beraktifitas perempuan cenderung lebih mampu menjadi inklusif dan partisipatif, dan lebih mudah melihat keterkaitan antar banyak hal ketimbang batasan, kesamaan ketimbang perbedaan, kemungkinan ketimbang hambatan, kegayutan ketimbang dikotomi kebaikan dan keburukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Keperempuanan juga tak harus selalu dibicarakan dalam ranah gender ataupun seksualitas, namun sebuah corak social-kultural yang membentuk pola pikir dan gerak yang tidak faksional. Dengan konsep Shakti, prithvi, prajnaparamita, Asia Selatan yang dikenal patriarki, memperlihatkan sebuah peradaban yang sekali pun tidak menempatkan perempuan sebagai pusat, namun berdiri, tumbuh dan berkembang di atas sebuah ekosofi yang sangat perempuan, baik secara praktis, ontologis, epistemologis dan etis. Eksplorasi saya di tengah masyarakat tradisional di Indonesia memperkenalkan sebentuk komunalisme yang feminine \u2013 kepemimpinan yang sekalipun patriarkal, namun tetap inklusif dan partisipatif. Sisi unik dari kerangka pikir karena prinsip dasar tatanannya bukan semata kepemimpinan, keteraturan dan progress, namun kepengampuan, kepengasuhan dan kelestarian. Kerangka pikir keperempuan juga kaya karena kompleksitasnya yang sensitif dan kreatif \u2013 menerima simplisitas tapi menolak simplifikasi. Karenanya menurut saya perempuan dan keperempuanan adalah pola sebuah filsafat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dihadapan perubahan jaman \u2013 disrupsi, teknologi 4.0, Post-Truth, Anthropocene atau bahaya disintegrasi dan neo-primordialisme-\u2018arsitektur\u2019, \u2018desain\u2019 dan \u2018tradisi-tradisi berarsitektur\u2019 \u2013 sebagai sebuah pengetahuan, profesi, bahkan definisi akan memperoleh tantangan untuk menjadi lebih lentur dan inklusif, tanpa harus lacur menjadi sangat permisif, atas nama keniscayaan perubahan. Mungkin di sinilah perempuan dan keperempuanan akan memiliki peran besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: right\">Indah Widiastuti<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>UPI Menggelar Pameran Karya Perempuan Arsitektur Kesetaraan gender sudah kian kerap dinikmati oleh perempuan dalam kiprah dan pengakuannya. Namun harus tetap diakui bahwa keperempuanan memiliki karakter yang khas dalam bekerja maupun berpikir. Dalam bekerja dan beraktifitas perempuan cenderung lebih mampu menjadi inklusif dan partisipatif, dan lebih mudah melihat keterkaitan antar banyak hal ketimbang batasan, kesamaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1216,"featured_media":904,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1216"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=878"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/878\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/media\/904"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}