{"id":1501,"date":"2020-02-13T21:01:08","date_gmt":"2020-02-13T14:01:08","guid":{"rendered":"http:\/\/dosen.ar.itb.ac.id\/kkstka\/?p=1501"},"modified":"2020-02-13T21:01:08","modified_gmt":"2020-02-13T14:01:08","slug":"himasari-hanan-akan-memaparkan-place-making-vernacular-hingga-millenials","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/2020\/02\/13\/himasari-hanan-akan-memaparkan-place-making-vernacular-hingga-millenials\/","title":{"rendered":"&#8220;Place Making: Vernakular hingga Millenials&#8221; oleh Himasari Hanan"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-09-at-16.11.42.jpeg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-1502\" src=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-09-at-16.11.42-722x1024.jpeg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"1021\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-09-at-16.11.42-722x1024.jpeg 722w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-09-at-16.11.42-212x300.jpeg 212w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-09-at-16.11.42-768x1089.jpeg 768w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-09-at-16.11.42.jpeg 903w\" sizes=\"auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-1.jpeg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-1557\" src=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-1-1024x768.jpeg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-1-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-1-300x225.jpeg 300w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-1-768x576.jpeg 768w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-1.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22.jpeg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-1556\" src=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-1024x768.jpeg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-300x225.jpeg 300w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22-768x576.jpeg 768w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/WhatsApp-Image-2020-02-13-at-17.38.22.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/a><\/p>\n<h4 style=\"text-align: right\"><span style=\"font-size: 14pt\"><em><strong>TRANSKRIPSI PEMAPARAN<\/strong><\/em><\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Latar belakang penelitian ini adalah studi tentang ruang dari perpektif humanistik. Saya menggaris bawahi bagaimana memahami ruang dari sisi manusia sehingga didapatkan secara komprehensif. Sejauh ini, kajian ruang lebih melihat aspek fisik sehingga bersifat abstrak. Kekurangannya adalah minimnya\u00a0pemahaman tentang ruang dan makna ruang, di mana keterkaitan manusia dengan ruang tidak bisa dipisahkan. Ruang tidak bermakna jika tidak ada manusia di dalamnya, bagaimana gagasan dan perasaan manusia ada di dalamnya. Jika tadi bicara fisik, dimensi, dan ekspresi ruang (sebagai contoh: menakutkan), kajian ini berusaha menggali bagaimana ruang itu. Kajian dilakukan berdasarkan tulisan Yi-Fu Tuan 1977, yakni perbedaan <em>space<\/em> dan <em>place<\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Pemahaman ruang seringkali melibatkan kegiatan di dalamnya dan imajinasi spasial. Pengalaman tentang ruang mengisyaratkan interaksi manusia dengan ruang. Jika bicara tentang ruang maka bagaimana interaksi manusia dengan ruang. Ruang dipahami tidak secara objektif (ukuran), tetapi juga secara subyektif (makna sosial ataupun merepresenasikan apa?).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span lang=\"EN-US\">Place<\/span><\/em><span lang=\"EN-US\"> tidak ditentukan oleh batasan fisik tetapi selalu melibatkan lokasi dan kondisi sosial. Pengalaman manusia dan pengalaman sosial lah yang membedakan <em>space<\/em> dan <em>place<\/em> karena kondisi sosial yang berbeda, bukan kondisi spasialnya. <em>Place<\/em> memiliki <i>spirit <\/i>(nyawa) sehingga menjadikannya unik. Kalau berbicara <em>place<\/em><i>,\u00a0<\/i>ada yang unik karena ada nyawa, impresi, pesona, ataupun sesuatu yang menggugah perasaan. Ruang menjadi <em>place<\/em> tergantung dari nyawa yang hadir di dalamnya. Hal tersebut (nyawa) yang akan dikaji dan macamnya banyak tergantung pada lokasi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Pemahaman tentang <em>Place<\/em> menggunakan teori dari Henri L. <em>Place<\/em> adalah kontruksi sosial yang dibuat oleh masyarakat. <em>Place<\/em> bisa berubah-ubah (tidak sama). Saya juga mengambil <em>place-making<\/em> dari Heidegger, yaitu membina hubungan timbal balik manusia dengan lingkungan fisik (supaya eksis atau eksistensi); bagaimana manusia melakukan eksistensi dan menjadi hadir di dunia ini. Dunia di sekitar manusia tidak bisa eksis jika tidak ada manusia yang mendiami. <em>Place <\/em>terjadi karena interaksi manusia; bagaimana menghargai manusia dengan alam dapat menciptakan sebuah <em>place<\/em>. <em>Place<\/em> terjadi jika ada hubungan timbal balik\/interaksi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lingkungan fisik akan hadir dan bermakna jika manusia mengalaminya. <em>Place<\/em> tidak terjadi jika tidak mengalami. Makna dari lingkungan bergantung dari konteks politik dan ekonomi dimana manusia berkegiatan. Berbicara <em>place<\/em> tidak bisa dilepaskan dari politik dan ekonomi.<\/p>\n<h4><span style=\"font-size: 12pt\"><em><strong>Tujuan<\/strong><\/em><\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagaimana perubahan <em>space<\/em> menjadi <em>place<\/em>; ruang yang secara fisik nyata dan kelihatan, bagaimana akhirnya hubungan dengan manusia?<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 12pt\"><em><strong>Kasus Bali Aga<\/strong><\/em><\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\">Bali Aga adalah masyarakat asli Bali yang tidak terpengaruh aristokratik. Mereka tidak dipengaruhi oleh sistem kekuasaan. Masyarakat Bali Aga tinggal di gunung dan biasa disebut Bali Gunung. Bali Aga tidak mengenal kasta, hidup sederhana, dan tidak memiliki raja.<\/p>\n<p>Orang Bali Aga membagi ruang menjadi 3 tempat:<\/p>\n<ol>\n<li><em>Parahyangan<\/em>: pura<\/li>\n<li><em>Pawongan<\/em>: tempat tinggal manusia<\/li>\n<li><em>Palemahan: <\/em>kuburan (terletak di selatan)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Terdapat tiga macam pura:<\/p>\n<ol>\n<li>Pura Panti: pemujaan Sang Hyang Widi<\/li>\n<li>Pura Penangkaran Agung: pura desa<\/li>\n<li>Pura Dalem: Dewa Kematian<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">Ruang diperuntukkan oleh tokoh-tokoh yang berbeda. Ruang tidak dibagi secara tegas, tetapi orang-orang Bali tahu bagaimana pembagiannya. Makna tempat yang sudah ada tersebut tidak bisa dicampur-adukkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Masyarakat Desa Pengotan terdiri dari dua kelompok masyarakat, yaitu Desa Gelagah dan Desa Kedawam. Mereka menempatkan tempat ibadah berdasarkan kelompok masyarakatnya. Mereka tidak mengenal tempat sembahyang, tetapi lebih berdasarkan konteks sosial\/kelompok. Begitu masuk ke dalam skala kampung\/desa\/hunian, mereka kembali ke pembagian ruang itu tadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pendefinisian sebagai tempat dilakukan hingga berbagai level. Bagaimana konsep tempat (pembagian 3 tempat) selalu ada dan juga diterapkan di rumah. Pembagian tersebut terjadi hingga pada skala terkecil. Pemahaman tentang tempat diterapkan pada ruang dalam, juga pada peletakan peralatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Space<\/em> yang sama bisa berperan sebagai <em>place <\/em>yang berbeda. Ruang yang luas dan multifungsi akan berubah sesuai dengan kegiatan manusia yang diwadahi saat itu. Ketika upacara, ruang akan digunakan sebagai area sirkulasi. Waktu yang lain ruang tersebut dapat berfungsi sebagai ruang ibadah. Tempat selanjutnya dikonstruksikan sesuai dengan waktu\/penggunaannya. Ketika tidak ada kegiatan, ruang juga tidak menjadi bermakna.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pembentukan <em>place<\/em> dapat disusun dari unsur yang berbeda-beda (posisi), selama konsep tentang tempat hadir\/ada. Berbagai media dipergunakan untuk memperjelas <em>place<\/em>, seperti dekorasi, sesembahan, warna, kesenian. Sebagai contoh, begitu ada <em>sesajen<\/em>, tempat ini akan berubah menjadi tempat yang suci. <em>Sesajen\u00a0<\/em>menjadi penanda perubahan ruang. Penggunaan pakaian berwarna putih oleh pada tokoh-tokoh otomatis menunjukkan tempat tersebut adalah tempat suci. Ruang yang suci dapat diperjelas dengan menempatkan dekorasi. Kesempatan lain, ruang tersebut juga bisa dipakai untuk ruang kesenian. Objek suci bermacam-macam. Daerah suci dan tidak suci terbentuk meskipun bukan tempat suci.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Place <\/em>memiliki ragam besar, skala, dan bentuk yang berbeda-beda. <em>Place<\/em> masyarakat vernakular berkaitan dengan objek kesucian. Nilai kesucian menciptakan sebuah tempat. Pendefinisian ruang suci\/kesucian pada bahasa arsitektur dilakukan dengan peninggian lantai dll.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Terdapat ruang antara di hunian Bali Aga.\u00a0R<span lang=\"EN-US\">uang antara yang semula hanya ruang kosong, tetapi ketika upacara dimaknai sebagai <em>place<\/em> dengan penempatan peralatan. Dengan segera ruang tersebut menjadi ruang yang berbeda. Hal ini merupakan bentuk konsep dari <em>place<\/em>.\u00a0Masyarakat vernakular menciptakan tempat sebagai struktur dan konstruksi ruang diciptakan.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 12pt\"><em><strong>Kasus Kawasan Trunojoyo Bandung<\/strong><\/em><\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\">Kawasan Trunojoyo dekat dengan kawasan perguruan tinggi. Trunojoyo terbentuk secara inkrimental karena pengaruh politik. Ada masa-masa musik barat\/gaya hidup barat diharamkan. Ketika Bung Karno melarang pengaruh dari barat. Anak-anak muda kemudian ingin menunjukkan eksistensi diri melalui <em>brand-brand <\/em>lokal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagaimana transformasi rumah kolonial dengan membagi-bagi ruangnya agar menarik bagi milenial. Satu rumah bisa dibagi menjadi tiga atau empat bagian. Ruang interior diubah sehingga ruang yang didapatkan sempit dan memanjang. Milenials menggunakan mekanismenya sendiri dalam aktivitas yang dilakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Sharing mechanism<\/em> dan jejaring sosial diterapkan sebagai taktik pembentukan tempat. Semula kawasan ini lebih banyak ke arah fashion, namun sekarang berubah menjadi industri kuliner. Uniknya adalah cara mereka menstransofmrasikan tempat antara kelompok <em>fashion<\/em> dan kuliner. Kelompok <em>fashion<\/em> merubah halaman menjadi tempat parkir, dan ketika semakin berkembang dilakukan penambahan teras (perluasan bangunan). Kelompok kuliner lebih mempertahankan rumahnya dan menjadikan halaman menjadi tempat makan. Kelompok kuliner memanfaatkan <em>interface<\/em> rumah dan ruang publik sebagai tempat usaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Desain fasad dipakai untuk menciptakan retorika bangunan. Melalui fasad mereka ingin berteriak dan menyuarakan suaranya. Simbiosis <em>fashion<\/em> dan kuliner terjadi kemudian menjadi tempat <em>leisure<\/em>. Kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi menjadi tempat nongkrong. Ruang di kompleks perumahan yang semula tidak terlalu bermakna, tetapi kini menjadi tempat yang bermakna. Ada unsur-unsur sejarah yang dimanfaatkan. Hal tersebut memberikan ruang permukiman menjadi tempat yang atraktif.<\/p>\n<h4><span style=\"font-size: 14pt\"><em><strong>DISKUSI<\/strong><\/em><\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>Christina Gantini<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Relevansi teori barat untuk membaca kasus di Indonesia. Pemahaman <em>function<\/em> di teori barat menempatkan hanya ada satu fungsi. Memang pura digunakan untuk tempat memuja. Tiba-tiba tempat pura menjadi ragam waktu dan ragam kegiatan yang berbeda. Pagi-pagi pura adalah tempat sakral dan malamnya menjadi profan. Kasus di Trunojoyo menunjukkan aktivtias parkir menjadi tempat makan di area halaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ada namanya<em> use<\/em> atau <em>guna<\/em>\u00a0yang bisa menjelaskan kejadian <em>multifunction. <\/em>Akibatnya,\u00a0<em>place-making<\/em> menjadi cukup bermasalah. Pemahaman dari <em>space<\/em>\u00a0menjadi dasar untuk menggunakan <em>place<\/em>. Konstruksi masyarakat yang mendukung fisik akan mendukung <em>place<\/em>. Sebetulnya masyarakat sudah memiliki struktur atas tempat. Jadi karena tempat sudah ada di kepala orang di Indonesia, maka pertanyaan mendasar adalah apakah benar kita <em>place-making<\/em>? Apakah bukan <em>space-making<\/em>? Bagaimana mendudukkan fenomena ini dalam ranah keilmuah barat? Bagaimana menjawab fenomena di timur? Kalau teori tersebut digunakan, saya rasa kurang bisa menjelaskan fenomena-fenomena yang ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>M. Prasetiyo Effendi Yasin<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saya melanjutkan Bu Gantini.\u00a0Kalau melihat\u00a0<em>place<\/em> dari kacamata yang menciptakan, nah bagaimana <em>place<\/em> bagi konsumen? Bagaimana dari sudut pandang turis? Apakah dia tidak boleh merasakan <em>place<\/em> itu?\u00a0Bisakah <em>place-making<\/em> dibuat merdeka? Bagaimana definisi <em>space<\/em> bisa dipahami oleh orang yang baru datang di suatu tempat?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>Donny Koerniawan<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Menurut Heidegger dkk, tiga hal paling penting dalam arti suatu kehidupan yang akan membentuk struktur sosial terdiri dari:<\/p>\n<ol>\n<li>Eksternaliasi: masyarakat plural;<\/li>\n<li>Obyeksisasi: objek sendiri;<\/li>\n<li>Internalisasi: individu terhadap masyarakat.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">Justru yang menurut saya menarik bagaimana struktur sosial membentuk tiga hal tersebut. Sebetulnya, bagaimana cara berpikir orang milenial atau Bali Aga yang membentuk struktur sosial? Bagi saya, intinya adalah waktu. Kapan sih orang menyebut itu sebagai <em>place<\/em> atau <em>space<\/em>? Itu disebutkan oleh Heidegger dkk, sehingga suatu ruangan dengan ketiga proses tadi menjadi <em>place<\/em>. Tapi waktunya seperti apa, kapan, dan dimana yang sebetulnya membentuk kontruksi sosial? Memang seperti itu atau tidak, mohon pencerahan.<\/p>\n<h4><span style=\"font-size: 14pt\"><em><strong>TANGGAPAN<\/strong><\/em><\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\">Permasalahannya adalah <em>place-making<\/em> atau <em>space-making<\/em>, lalu tentang kapan.\u00a0Selalu arsitek merasa adalah orang yang paling tahu bagaimana harus menciptakan ruang dan tempat. Dan menyambung pernyataan Pak Pras, yang mau dilayani siapa sih, antara penghuni, turis, pengunjung, pengelola? Kalau di arsitektur tidak pernah dibedakan\/dipersoalan. Seolah-olah arsitek yang mempersoalkan. Dari awal sudah dicetak bahwa arsitek sudah tahu semuanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menyambung pernyataan Pak Donny, dengan adanya kekuatan ekonomi pengusaha hanya memanfaatkan situasi saja. Tanpa sadar kita menghadapi kekuatan ekonomi dll. Tidak ada hubungannya dengan desain dan arsitektur. Padahal <em>place<\/em> tadi konstruksi sosial, yang harus diolah adalah unsur-unsur atau objek-objek yang mempengaruhi ruang. Saya sepakat dengan Pak Prasetiyo bahwa sebaiknya mengikuti konsumen, bukan <em>client<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketika sudah diskusi dengan lingkungan sekitar, ya yang terjadi hanya satu arah. Padahal ada masukan dll dari bawah. Jangan-jangan arsiteknya sekarang hanya ikut apa yang menjadi pergunjingan di lingkungan sosial. Seperti fakta sekarang ini dimana survei menggunakan data-data dari internet. Justru persoalan kita harus lebih peka terhadap kedudukannya kepada lingkungan. Jangan-jangan kebutuhan kemampuan arsitek adalah koordinasi daripada mendesain. Kita harus siap distrupsi dalam memperlakukan ruang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Proyek-proyek yang dilakukan oleh <em>starchitect<\/em> seperti Zaha Hadit adalah mengkondisikan\/mengkonstruksikan masyarakat. Apakah arsitek masih ingin menetapkan nilai-nilai apa yang dianggap baik atau indah. Jadi yang harus didesain,\u00a0<em>place or space<\/em>?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-content\/uploads\/sites\/267\/2020\/02\/Presentasi-HH-SAPPK-13-februari-2020.pdf\">Materi presentasi dapat diunduh di sini.<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TRANSKRIPSI PEMAPARAN Latar belakang penelitian ini adalah studi tentang ruang dari perpektif humanistik. Saya menggaris bawahi bagaimana memahami ruang dari sisi manusia sehingga didapatkan secara komprehensif. Sejauh ini, kajian ruang lebih melihat aspek fisik sehingga bersifat abstrak. Kekurangannya adalah minimnya\u00a0pemahaman tentang ruang dan makna ruang, di mana keterkaitan manusia dengan ruang tidak bisa dipisahkan. Ruang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1216,"featured_media":1505,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-1501","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pengabdian-kepada-masyarakat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1501","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1216"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1501"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1501\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1505"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1501"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1501"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/kkstka\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1501"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}