KEGIATAN SIMLITABMAS KK-ILMU KEMANUSIAAN FSRD ITB : MODEL RESOLUSI KONFLIK SIBER DI INDONESIA BERBASIS BAHASA: PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI KONSTRUKTIF

MODEL RESOLUSI KONFLIK SIBER DI INDONESIA BERBASIS BAHASA: PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI KONSTRUKTIF

 

(RESUME PENELITIAN SIMLITABMAS TAHUN KEDUA/2019)

Dr. Nia Kurniasih, M. Hum. NIDN: 0015016905. Ketua Tim.

Dr. Ir. Dicky R. Munaf, M.SCE. NIDN 0027056101. Anggota Tim.

Qoriah A. Siregar, S. Ag., M.A. NIDN 0018047103. Anggota Tim.

Harry Nuriman, S.S., M.Si. NIDN: 0018026908. Anggota Tim.

 

Penelitian ini mengangkat isu konflik di dunia siber Indonesia sebagai tema penelitian dalam kaitannya dengan Linguistik, yakni Linguistik Terapan untuk Perdamaian (Applied Peace Linguistics atau APL), yakni bidang ilmu yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah terkait hukum atau perselisihan dengan menggunakan analisis kebahasaan: komunikasi konstruktif (constructive communication). Metode yang akan digunakan untuk pengumpulan data dan eksperimen penelitian kualitatif ini adalah Etnografi Virtual, yakni metode etnografi yang dilakukan melalui media internet. Untuk menganalisis data, akan digunakan metode Analisis Wacana Kritis atau CDA dengan menggunakan Hipersemiotika (analisis Bahasa visual/gestural/audio). Pendekatan pragmatik cyberpragmatics juga akan digunakan sebagai dasar pembuatan aplikasi model resolusi konflik siber, yakni untuk mencari fitur linguistik yang dapat menciptakan dan menjaga kesantunan penggunaan Bahasa (verbal dan visual) di dunia

siber.

Hasil penelitian tahun kedua telah mencapai tahap akhir analisis data yang telah di kumpulkan melalui penjaringan data daring (menggunakan mesin pencari Buzzumo) maupun data luring terkait konflik siber. Berikut ini adalah ringkasan hasil analisis data penelitian.

  1. Analisis data dibahas pada acara Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri oleh narasumber yang merupakan pakar di bidang konflik siber di Indonesia, yakni pakar gerakan anti hoaks dari Kominfo Jabar, peneliti dan akademisi Teknologi Informasi Komunikasi Indonesia dari Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, pakar ilmu budaya dari FSRD ITB, pakar dan praktisi IT, dan pakar sekaligus akademisi Linguistik.

Secara ringkas simpulan dari hasil diskusi dan analisis data adalah sebagai berikut:

  1. Konflik di dunia maya atau dunia siber (daring) meluas ke dunia nyata.
  2. Media, baik media massa maupun sosial media telah berperan besar dalam menyebarkan potensi konflik karena:
    1. Banyak pemberitaan yang menggaris-bawahi identitas kelompok dalam bentuk marking yang tidak perlu dalam pemberitaan
    2. Amplifikasi konflik antar kelompok (politik, etnis, kepentingan) ~ bad news is a good news
  • Membangun narasi perang dalam kontestasi politik.
  1. Konflik, baik yang sudah terjadi atau yang masih berpotensi terjadi, bisa diatasi dengan komunikasi konstruktif. Komunikasi konstruktif adalah upaya membina hubungan baik dan saling memahami antar para pihak. Dengan komunikasi konstruktif, miskomunikasi bisa dicegah dan potensi konflik bisa dideteksi sedini mungkin.
  2. Penelitian dari Overall, Sibley, dan Travaglia (2010) menunjukkan bahwa hanya hanya komunikasi yang aktif konstruktif yang memiliki efek menguntungkan bagi sebuah hubungan (Overall, Sibley, dan Travaglia, 2010).
  1. Komunikasi aktif konstruktif di Indonesia merujuk pada cara berkomunikasi di mana pengalaman, pandangan atau perasaan pribadi dikomunikasikan dalam hubungan. Hasil penelitian Shallcross et al. (2011) menunjukkan bahwa memiliki keterikatan dengan rasa tidak aman akan cenderung merespon secara pasif atau destruktif kepada orang sekitarnya ketika mereka menceritakan secara rinci peristiwa yang positif. Sikap ini juga tercermin ketika seseorang sedang berkomunikasi secara daring (online).
  2. Budaya asertif sangat jarang dijumpai di Indonesia bahkan di daring (kesantunan yang utama)
  3. Untuk menjadi konstruktif dibutuhkan sikap “active-emphatic listening
  4. Perlu dilakukan lebih banyak riset untuk membangun sikap dan komunikasi konstruktif, yang meliputi:
    1. Bahasa yang seperti apa menimbulkan efek kepatuhan tertentu dan mengurangi efek pelanggaran kesantunan.
    2. Kata-kata seperti apa yang membuat orang lebih mudah memperhatikan (listening)
  • Model atau kurikulum pelatihan assertiveness.
  1. Simpulan hasil analisis topik yang lebih spesifik, yakni penyebaran berita bohong atau hoaks, adalah sebagai berikut:
    1. Hoax dibuat dengan sengaja (by design)
    2. Sebagai alat untuk mempengaruhi publik dan menjadi marak karena faktor stimulan terbesar yaitu sosial politik dan SARA
    3. Namun penerima hoax kini cukup literated/kritis karena telah membiasakan diri memeriksa kebenaran beritanya walaupun sebagian masih mengalami kesulitan mencari referensi.
    4. Tindakan hukum yang belum efektif berdampak
  1. Hoaks terjadi tidak hanya di Indonesia. Bagaimana negara lain mengelola dan menanggulanginya dapat dilihat dari kebijakan/regulasi pemerintah, infrastruktur mitigasi hoax, kontribusi media penebar hoax, peningkatan literasi, pemerataan awareness digital, dll. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tingkat literasi masyarakat sudah baik
  2. Mitigasi yang perlu dilakukan untuk memerangi penyebaran hoaks adalah dengan:
    1. Menghilangkan faktor stimulan yang didominasi isu sosial politik & SARA
    2. Memudahkan akses ke sumber-sumber yang dapat dijadikan referensi
  • Memerikan tindakan hukum yang efektif
  1. Meningkatkaan literasi masyarakat melalui peran serta pemerintah, pemuka masyarakat dan komunitas;
  1. Minimalisir faktor stimulan
  2. Masyarakat dapat dikelompokkan kedalam 3 bagian yaitu supporters, silent majority dan haters.
  3. Sampai kapanpun kelompok haters tidak bisa dihilangkan
  4. Mitigasi yang perlu dilakukan adalah untuk menjaga agar kelompok silent majority menjadi imun terhadap hoaks dan lapisan kelompok haters dan supporters semakin berkurang.
  5. Tantangan ke depan
    1. Hoaks disebarkan dan menyebar luas di kalangan masyarakat yang literasi digitalnya sudah baik yaitu kalangan pengguna internet, pengguna sosial media, dst.
    2. Namun, pada kenyataannya masyarakat ini belum menjadi kalangan yang hoax-proof. Kehadiran edukasi yang sistematis dan kontinyu sangat diperlukan.
  6. Hasil analisis data yang telah dirumuskan pada FGD kemudian dituangkan dalam bentuk manuskrip-manuskrip yang telah diterima untuk dipresentasikan di konferensi internasional dan yang masih sedang ditulis untuk dikirimkan ke jurnal internasional bereputasi.
  7. Hasil analisis data tahun kedua menjadi pertimbangan baru dalam pembuatan model resolusi konflik yang meliputi aplikasi dan jenis pendidikan yang sesuai dengan prinsip kesopanan di dunia maya (netiket) seperti yang diusulkan pada proposal penelitian awal (skema 3 tahun). Pembuatan model resolusi ini masih sedang dalam tahap pengembangan dan dapat dilihat pada web tentatif penelitian ini pada tautan berikut: http//www.demosof.com/konflik.

Hasil luaran sampai saat ini adalah presentasi makalah di konferensi internasional Fifth Conference of International Journal of Press/Politics di University of Loughborough, United Kingdom, dengan judul ‘Have Jargons Divided the Nation? Evidence from the 2019 Indonesia’s General Election’.

 

 

You may also like...