INTERNASIONAL SEMINAR ART, DESIGN, RELIGION AND HUMANITIES

INTERNATIONAL SEMINAR

ART, DESIGN, RELIGION, AND HUMANITIES

Institut Teknologi Bandung, 13 November 2017

 Kegiatan Seminar Internasional Art, Design, Religion, and Humanities yang diinisiasi oleh Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, dipandang penting di tengah semakin berkembangnya pengkajian transdisiplin antara sains, ilmu sosial-kemanusiaan-budaya, teknologi, seni, dan agama.

Pemaparan para pembicara yang terdiri atas Dr. Kamarulzaman (Proses Kreatif Menciptakan Formulasi Musik Berdasarkan Huruf Hijaiyyah), Prof. Toto Winata, Ph.D (Nano Science and Nano Technology Supportive to Understanding Attitude and Ethics of Human Life), Dr. Sarwono (Estetika Seni Tradisi dalam Kearifan Lokal), dan Prof. Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc., Ph.D (Subuh Peradaban Planeter: Memaknai Alam Semesta untuk Keseharian).

Refleksi mengenai beberapa hal terkait dengan topik seminar internasional “Art, Design, Religion, and Humanities” ini, sebagai berikut:

  1. Art, design, religion, dan humanities memiliki relasi fungsional yang kuat dalam menciptakan sebuah peradaban yang maju, yaitu peradaban yang memiliki keindahan fisik dan non fisik.
  2. Pengembangan sains dan teknologi sejalan dengan pengembangan diri manusia. Baik Ilmu Pengetahuan maupun religi memerlukan tools yang tidak biasa untuk memahaminya.
  3. Pentingnya “teknologi terapan bidang keagamaan”, yaitu membangun teknologi sebagai kekuatan penting dalam membentuk masyarakat berkeadaban yang saintifik, religius, dan dinamis.

Dari beberapa hasil refleski di atas, maka diskursus tentang transdisiplin  Sains, Teknologi, dan Agama di ITB dipandang strategis sebagai upaya pengembangan keilmuan di ITB menjadi lebih luas, fleksibel, humanis, agamis,  dan dinamis, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri maupun dalam menjawab berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat terutama dalam teknologi terapan terkait agama.

Kondisi di atas sesuai arahan Bapak Presiden Republik Indonesia pada 26 September 2017 lalu di Bali pada acara penutupan pertemuan pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia, agar Perguruan Tinggi di Indonesia terus melakukan terobosan-terobosan dengan membentuk progam studi baru yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Institut Teknologi Bandung telah mulai meresponnya,  salah satunya dengan lahirnya Surat Keputusan pengembangan seni di Institut Teknologi Bandung meliputi sub-sub bidang seni rupa, desain, dan bidang-bidang seni lain yang bersifat transdisiplin, dengan mengantisipasi perkembangan keilmuan dan perubahan praktik kesenian mutakhir (budaya, visual, industri kreatif, isu lingkungan, dan diplomasi budaya) baik pada tingkat nasional, regional, dan Internasional. Selanjutnya hal ini tentu juga menjadi tantangan agar civitas akademika ITB memikirkan adanya kajian transdisiplin Sains, Teknologi, dan Agama (STA) di Institut Teknologi Bandung.

Hal ini tentunya dalam mewujudkan visi ITB pada Rencana Induk Pengembangan (RENIP) ITB 2006-2025 bahwa ITB adalah Pusat Pengembangan Budaya Bangsa. Pengembangan budaya yang dimaksud adalah mengintegrasikan amanat pada PP No. 65 Tahun 2013 tentang Statuta ITB yang mewajibkan untuk mengembangkan Sains, Teknologi, Seni, dan Ilmu Sosial – Humaniora, sebagai 4 pilar Institut Teknologi Bandung.


 

You may also like...