IAI Professional Practice Goes To Campus

@ITENAS, 9 April 2018

Moderator : M. Thamrin

Pada hari Senin, 9 April 2018, beberapa Massa-G sebagai perwakilan dari Prodi Sarjana Arsitektur ITB mendatangi “Arcasia Goes to Campus” yang diselenggarakan ACPP (Arcasia Committee of Professional Practice) dan IAI. Topik pembicaraan yang dibawakan adalah “Towards Becoming a Professional Arcitect”, yang dibawakan oleh perwakilan dari beberapa negara tetangga. Yang pertama adalah dari S. Thirilogachandran, perwakilan dari Malaysia. Untuk menjadi seorang arsitek professional, terdapat beberapa poin yang harus dimiliki/ditempuh, yaitu:

  1. Education
  • Pre University

Sekolah Dasar, Sekolah Menengah

  • Architectural Degree

Umumnya 5 tahun

Konteksnya di Indonesia : 3-4 tahun

  1. Practical Experience
  • Mempunyai kemampuan dasar profesi arsitek :
  1. Schematic Design
  2. Design Development
  3. Contract Documentation
  4. Contract Application
  5. Professional Qualification
  • Minimal 2 tahun berpraktik
  • Mempunyai pengalaman bekerja di Arsitek Profesional
  1. Professional Practice
  • Yang jelas mempunyai kualifikasi profesional dari organisasi arsitek, konteksnya di Indonesia adalah IAI, di setiap negara mempunyai masing-masing punya.

Selain itu, ia juga menjelaskan mengenai opportunities dan rewards dalam profesi arsitektur, yaitu:

  • Emerging Economies in Asia

Banyak negara di Asia yang sedang menghadapi ‘Construction Boom’, maksudnya sedang banyak pembangunan dalam berbagai bidang. Tidak hanya di Asia, negara-negara berkembang seperti Brazil, Middle East, dan Afrika juga. Maka dari itu jadi arsitek merupakan peluang yang menarik.

  • Globalisasi

Profesional dan skilled workers dapat bekerja secara global di pasar dunia, terlebih adanya kemajuan teknologi, komunikasi, serta teknologi informasi.

  • Rasio Arsitek

Rasio dari arsitek dibanding populasi cukup sedikit di negara-negara Asia, berdasarkan standar PBB.

  • Kemajuan teknologi konstruksi dan servis konsultan dapat meningkatkan produktivitas, sehingga pekerjaan dapat lebih cepat dan biaya dapat diteken.
  • Arsitek dapat bekerja di banyak bidang lain termasuk pembangunan kota, urban planning, desain interior, desain lansekap, dan project management.
  • Arsitek adalah pemimpin dari industri konstruksi bangunan, dan akan selalu memimpin setiap proyek yang akan ada.
  • Sambil dibayar, Arsitek juga akan senang apabila bangunannya sedang dibangun

Ia juga menjelaskan mengenai isu-isu dan tantangan dalam berpraktik, yaitu:

  • Harus mampu menguasai banyak skill, termasuk project management, bisnis, serta paham peraturan terkait konstruksi bangunan.
  • Pengalaman yang luas sebelum memulai praktik sendiri
  • Ketidakseimbangan dalam pengadaan layanan arsitektur
  • Cakupan kerja dan isu upah
  • Adanya arsitek asing
  • Industri yang kompetitif, harus selalu berinovasi
  • Pertanggungjawaban atas karyanya

Kesimpulan dari pembicaraan tersebut adalah menjadi arsitek professional merupakan profesi yang menjanjikan, tapi seorang arsitek profesional harus menguasai berbagai skill sebagai penunjang.

Pembicara ke dua adalah arsitek Mukul Goyal dari India. Ia membicarakan beberapa skill set yang harus dimiliki seorang arsitek, yaitu:

  1. Presentation Skill
  2. Sketching skill
  3. Management
  4. Technology skill
  5. Creative thinking
  6. Problem Solving
  7. Teamwork skill
  8. Leadership
  9. Writing skill
  10. Visual Literacy
  11. Citizenship and global perspectives

Pembicara ke tiga adalah arsitek Fujinuma Masaru dari Jepang. Ia bercerita mengenai konteks keprofeesian arsitek di Jepang dan perkembangan isu arsitektur di Jepang. Ia sempat mengutip perkataan Hojoki (1212)

“The following river never stops and yet the water never stays the same. Foam floats upon the pools, scattering, reforming, never lingering long, so it is with man and all his dwelling places here on earth.”

Ia juga bercerita bahwa sejarah singkat Jepang dan hubungannya dengan arsitektur, mulai dari

  • 18-19th abad Edo, banyak orang berpikiran akan tidak mengeluarkan biaya lebih pada bangunan mengingat akan datangnya bencana suatu saat nanti
  • 1867 MEIJI restoration, mulai datangnya pengaruh-pengaruh barat masuk ke Jepang
  • 1923 Gempa bumi besar melanda Jepang
  • 1945 Perang dan bom terjadi di Jepang
  • 1950 Adanya lisensi terhadap Arsitek Jepang
  • 2011 Gempa bumi besar dan tsunami melanda Jepang

Selain itu, ada pula pemaparan dari perwakilan negara-negara lain seperti Thailand. (ASHPS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *