{"id":315,"date":"2007-05-29T17:13:35","date_gmt":"2007-05-29T10:13:35","guid":{"rendered":"http:\/\/www.ftsl.itb.ac.id\/?p=315"},"modified":"2007-05-29T17:13:35","modified_gmt":"2007-05-29T10:13:35","slug":"gejala-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/gejala-alam\/","title":{"rendered":"GEJALA ALAM"},"content":{"rendered":"<p class=\"MsoNormal\"><strong>Gelombang Alun Dapat Diprediksi<\/strong><\/p>\n<p>Pada 17 Mei lalu, masyarakat pesisir barat Sumatera dan selatan Jawa dikejutkan oleh terjangan gelombang sangat besar hingga mengakibatkan para nelayan tidak dapat melaut dan ratusan rumah mereka roboh.<\/p>\n<p><em>Oleh MUSLIM MUIN dan ANDOJO WURJANTO<\/em><\/p>\n<p>Bencana ini sesungguhnya bisa dicegah dengan mengembangkan sistem peringatan dini gelombang pasang atau alun.<\/p>\n<p>Komentar pakar kelautan bermunculan dari beberapa instansi, baik di media cetak maupun televisi. Ada yang berpendapat bahwa fenomena ini akibat terbentuknya Gelombang Kelvin (<em>Kelvin Wave<\/em>), ahli lain mengatakan akibat posisi Bumi dan Bulan berada dalam jarak terdekat (tunggang pasang tinggi), ada lagi yang menghubungkannya dengan Pemanasan Global.<\/p>\n<p>Dari beberapa rekaman video yang ditayangkan di televisi, kami berkeyakinan bahwa fenomena ini adalah akibat kombinasi Pasang Surut yang tinggi dan gelombang panjang yang dikenal dengan <strong><em>Swell<\/em><\/strong>. Hal ini diperkuat dengan simulasi komputer yang kami lakukan untuk beberapa lokasi.<\/p>\n<p>Pada hasil simulasi itu jelas sekali terlihat bahwa pada saat bencana terjadi, laut berada dalam tunggang pasang surut yang tertinggi yang dikenal sebagai <em>Spring Tide<\/em>. Tetapi seandainya ada anomali dalam Pasang Surut, kenapa hanya di beberapa tempat di Pulau Jawa? Irian yang dikenal sebagai daerah dengan tunggang pasut yang tinggi tidak bermasalah? Kesimpulannya adalah tidak ada yang spesial dengan Pasang Surut.<\/p>\n<p>Dari daerah yang kena bencana, kita bisa melihat bahwa gelombang ini dipastikan datang dari Samudera Hindia. Tidak seperti lautan lainnya (Pasifik dan Atlantik), Samudera India mempunyai karakteristik unik yang dikenal dengan <em>Monsun<\/em>. Antara Mei dan Oktober, angin di Samudera India umumnya bertiup dari Barat Daya, artinya angin bertiup ke arah Indonesia.<\/p>\n<p>Lewat penelusuran pada sumber terkait di internet, penulis dikejutkan oleh kenyataan bahwa ancaman terjangan gelombang alun tersebut ternyata telah di prediksi oleh <strong><em>European Space Agency<\/em><\/strong>. Berita itu sudah diterbitkan oleh ESA pada 16 Mei 2007.<\/p>\n<p>Dari data satelit yang mereka deteksi, rambatan Swell di lautan India sudah menghadang <em>France Reunion Island<\/em> dan menuju ke perairan Indonesia seperti diperlihatkan dalam gambar.<\/p>\n<p><strong><em>Swell<\/em>\u009d<\/strong> adalah gelombang yang sudah berada jauh dari daerah pembentukannya<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.ftsl.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2007\/05\/pic%20gelombang1.jpg\" \/><\/p>\n<p><strong>G<\/strong><strong>elombang Pasang <\/strong>atau gelombang alun melanda perairan Labuan di Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu (19\/5) pagi. Luapan air laut itu menggenangi puluhan rumah di perkampungan nelayan di Desa Teluk, Kecamatan Labuan.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.ftsl.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2007\/05\/pic%20gelombang2.jpg\" \/><\/p>\n<p><strong>Rambatan Gelombang<\/strong> Swell dari Afrika Selatan menuju perairan Indonesia, 16 Mei 2007.<\/p>\n<p>Dari kenyatan ini timbul pertanyaan mengapa pemerintah tidak menanggapi berita ini dan meneruskannya kepada masyarakat? Ini mengingat bahwa jelas sekali kita punya cukup waktu untuk bersiap-siap menghadapi <em>Swell<\/em> yang berbahaya ini.<\/p>\n<p>Jarak antara sumber gelombang dan Indonesia sekitar 8.000 km. Dengan perhitungan kasar, menggunakan rumus sederhana cepat rambat gelombang panjang, c=V(gravitasi*kedalaman), dengan asumsi kedalaman 1000 meter, kita sudah bisa memperkirakan bahwa gelombang ini baru akan sampai ke Indonesia dalam waktu sekitar 24 jam. Kita masih mempunyai banyak waktu karena sumber gelombang jauh dari Indonesia. Jelas sekali, masyarakat pesisir bisa diselamatkan.<\/p>\n<p><strong>Gelombang Alun<\/strong><\/p>\n<p>Istilah &#8216;Gelombang Pasang&#8217;\u009d untuk fenomena ini bagi penulis agak membingungkan. Apakah bencana ini hanya muncul dalam kondisi pasang yang tinggi? Jawabannya jelas belum tentu. Yang kita hadapi adalah <em>Swell<\/em>.<\/p>\n<p>Memang, pada saat air pasang, posisi gelombang pecah akan lebih dekat dengan garis pantai. <em>Swell<\/em> yang tinggi tetap berbahaya walaupun air laut tidak berada dalam saat pasang tertingi. Gelombang Pasang adalah penamaan yang keliru. Mungkin istilah &#8216;Alun&#8217; yang dikenal luas oleh masyarakat pantai lebih tepat untuk <em>Swell<\/em>.<br \/>\nAhli teknik pantai membagi gelombang dalam dua tipe, <em>Seas<\/em> dan <em>Swell<\/em>. <em>Seas <\/em>adalah gelombang pendek pada perioda rendah, masih dalam pembentukan yang dipengaruhi oleh angin. <em>Swell<\/em> adalah gelombang yang sudah berada jauh dari daerah pembentukannya. Sedangkan <em>swell<\/em> merupakan gelombang panjang, mempunyai perioda yang tinggi, oleh karena itu gelombang ini sulit teredam. <em>Swell<\/em> bisa merambat sampai ribuan kilometer. Periodanya biasanya lebih besar dari 10 detik.<\/p>\n<p><strong>Peringatan dini bahaya <em>Swell<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Penulis selalu berpendapat bahwa peringatan dini untuk melindungi masyarakat pesisir Indonesia dari  bahaya <em>Tsunami<\/em> bukan pekerjaan yang mudah karena sumber Gelombang <em>Tsunami<\/em> berada di perairan kita. Tetapi, untuk <em>Swell<\/em>, mestinya sistem peringatan dini akan lebih efektif dan jelas sangat bermanfaat karena sumbernya jauh dari perairan Indonesia.<\/p>\n<p>Gelombang <em>Swell<\/em> yang tinggi dan berbahaya tidak terbentuk di perairan Indonesia karena kecepatan angin di Indonesia relatif kecil dibandingkan dengan daerah subtropis. Oleh karena itu, kita di Indonesia mempunyai waktu yang cukup memadai untuk persiapan menghadapi bahaya <em>Swell<\/em>.<\/p>\n<p>Walaupun <em>Swell <\/em>tidak mematikan seperti yang kita kenal dari Gelombang <em>Tsunami<\/em> yang mnerjang pantai dalam hitungan menit, sudah saatnya pemerintah melakukan beberapa kebijaksanaan untuk mengurangi kerusakan akibat <em>Swell<\/em>.<\/p>\n<p>Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah Meningkatkan kerjasama dengan beberapa badan terkait di luar negeri untuk memperoleh informasi mengenai pembentukan <em>Swell<\/em>.<\/p>\n<p>Membangun Sistim Peringatan Dini Bahaya <em>Swell<\/em>, yang dilengkapi dengan <em>software<\/em> model rambatan gelombang panjang untuk memperkirakan daerah bencana yang lebih rinci dan membangun GIS Database masyarakat pesisir yang sudah terintegrasi dengan model rambatan gelombang.<\/p>\n<p>MUSLIM MUIN dan ANDOJO WURJANTO<br \/>\nPeneliti Program Studi Teknik Kelautan<br \/>\nInstitutTeknologi Bandung<br \/>\n(KK Teknik Kelautan ITB)<\/p>\n<p><strong><em>Kompas, Rabu, 23 Mei 2007<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gelombang Alun Dapat Diprediksi Pada 17 Mei lalu, masyarakat pesisir barat Sumatera dan selatan Jawa dikejutkan oleh terjangan gelombang sangat besar hingga mengakibatkan para nelayan tidak dapat melaut dan ratusan rumah mereka roboh. Oleh MUSLIM MUIN dan ANDOJO WURJANTO Bencana ini sesungguhnya bisa dicegah dengan mengembangkan sistem peringatan dini gelombang pasang atau alun. Komentar pakar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":["post-315","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=315"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/315\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=315"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=315"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/ftsl\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=315"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}