{"id":14266,"date":"2025-10-21T05:15:55","date_gmt":"2025-10-21T05:15:55","guid":{"rendered":"https:\/\/fitb.itb.ac.id\/?p=14266"},"modified":"2025-10-27T15:17:00","modified_gmt":"2025-10-27T15:17:00","slug":"air-bersih-untuk-perbatasan-cerita-kolaborasi-itb-ub-dan-universitas-musamus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/air-bersih-untuk-perbatasan-cerita-kolaborasi-itb-ub-dan-universitas-musamus\/","title":{"rendered":"Air Bersih untuk Perbatasan: Cerita Kolaborasi ITB, UB, dan Universitas Musamus"},"content":{"rendered":"<h3>Air Bersih untuk Perbatasan: Cerita Kolaborasi ITB, UB, dan Universitas Musamus<\/h3>\n<p>Oleh: Miga Magenika Julian<\/p>\n<p>Di ujung timur Indonesia, tepatnya di <strong>Desa Telaga Sari, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan<\/strong>, akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan besar. Selama bertahun-tahun, masyarakat setempat harus bergantung sepenuhnya pada air hujan yang ditampung di embung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14257\" src=\"http:\/\/fitb.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture1-1.png\" alt=\"\" width=\"608\" height=\"410\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture1-1.png 608w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture1-1-300x202.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 608px) 100vw, 608px\" \/><\/p>\n<p>Kondisi geografis desa yang berada di dataran rendah dengan elevasi hanya <strong>\u00b11 meter di atas permukaan laut<\/strong> membuat pilihan sumber air sangat terbatas. Ketika musim kemarau tiba, krisis air bersih semakin parah dan berdampak langsung pada kesehatan serta produktivitas warga.<\/p>\n<h4>Kolaborasi Tiga Perguruan Tinggi<\/h4>\n<p>Melihat kondisi ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) <em>Desanesha<\/em> dari <strong>Institut Teknologi Bandung (ITB)<\/strong> berinisiatif untuk turun tangan. Tim yang dipimpin oleh <strong>Miga Magenika Julian, S.T., M.T.<\/strong> dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB ini menggandeng sejumlah akademisi dari berbagai institusi.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14258\" src=\"http:\/\/fitb.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture2-1.png\" alt=\"\" width=\"435\" height=\"260\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture2-1.png 435w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture2-1-300x179.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 435px) 100vw, 435px\" \/><\/p>\n<p>Kolaborasi ini melibatkan <strong>Dr. Prima Roza<\/strong> dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, <strong>Esa Fajar Hidayat, S.Kel., <a href=\"http:\/\/M.Si\">M.Si<\/a>.<\/strong> dari <strong>Universitas Brawijaya<\/strong>, serta <strong>Sunarni, S.Pi., <a href=\"http:\/\/M.Si\">M.Si<\/a>.<\/strong> dan <strong>Nova Suryawati Monika, <a href=\"http:\/\/S.Si\">S.Si<\/a>., <a href=\"http:\/\/M.Si\">M.Si<\/a>.<\/strong> dari <strong>Universitas Musamus Merauke<\/strong>. Kehadiran Universitas Musamus sebagai mitra lokal sangat penting untuk memastikan program ini berkelanjutan dan sesuai dengan kondisi lapangan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14259\" src=\"http:\/\/fitb.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture3-1.png\" alt=\"\" width=\"283\" height=\"260\"><\/p>\n<p>Program yang dilaksanakan pada <strong>9\u201313 Oktober 2025<\/strong> ini merupakan bagian dari <strong>Pengabdian Masyarakat Desanesha Skema Bottom-Up Tahun 2025 Tahap III<\/strong>, dengan judul lengkap <em>&#8220;Integrasi Data Geospasial dan Teknologi Filtrasi Tepat Guna untuk Penyediaan Air Bersih Berbasis Air Hujan di Desa Telaga Sari, Merauke, Papua Selatan.&#8221;<\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14260\" src=\"http:\/\/fitb.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture4.png\" alt=\"\" width=\"235\" height=\"275\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14261\" src=\"http:\/\/fitb.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture5.png\" alt=\"\" width=\"463\" height=\"278\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture5.png 463w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture5-300x180.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 463px) 100vw, 463px\" \/><\/p>\n<h5>Dua Pendekatan Utama: Data dan Teknologi<\/h5>\n<p>Ketua tim, <strong>Miga Magenika Julian<\/strong>, menjelaskan bahwa program ini dirancang dengan dua pendekatan yang saling melengkapi.<\/p>\n<p><em>&#8220;Pertama, kami melakukan analisis data geospasial untuk memahami kondisi hidrologis dan batas daerah aliran sungai (DAS) di wilayah tersebut agar intervensi lebih terarah,&#8221;<\/em> ujar Miga.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14262\" src=\"http:\/\/fitb.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture6.png\" alt=\"\" width=\"475\" height=\"280\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture6.png 475w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/10\/Picture6-300x177.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 475px) 100vw, 475px\" \/><\/p>\n<p>Pendekatan berbasis data ini penting untuk memastikan bahwa solusi yang ditawarkan tidak hanya efektif, tetapi juga tepat sasaran sesuai dengan karakteristik lingkungan setempat.<\/p>\n<p><em>&#8220;Kedua, kami memperkenalkan teknologi filtrasi air sederhana yang dapat dibuat dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat,&#8221;<\/em> tambahnya.<\/p>\n<p>Teknologi filtrasi yang diperkenalkan menggunakan <strong>drum barel berkapasitas 110 liter<\/strong> yang diisi dengan beberapa lapisan media penyaring. Media yang digunakan meliputi kapas, zeolit, campuran pasir silika dan cangkang kerang, hingga karbon aktif atau arang. Keunggulan sistem ini adalah semua bahan penyaring mudah didapat di sekitar wilayah setempat, sehingga masyarakat dapat merawat dan bahkan mereplikasi sistem ini secara mandiri.<\/p>\n<h4>Dampak dan Harapan ke Depan<\/h4>\n<p>Kegiatan ini mendapat sambutan positif dan dukungan penuh dari <strong>pemerintah desa<\/strong> serta <strong>universitas lokal<\/strong>. Antusiasme warga dalam mengikuti pelatihan dan sosialisasi menunjukkan bahwa program ini sangat dibutuhkan.<\/p>\n<p>Lebih dari sekadar menyediakan air bersih, program ini diharapkan dapat membawa dampak jangka panjang. Dengan akses air bersih yang lebih baik, <strong>kesehatan masyarakat<\/strong> akan meningkat, <strong>ketahanan pangan<\/strong> dapat diperkuat, dan <strong>produktivitas pertanian<\/strong> di wilayah perbatasan ini pun akan semakin optimal.<\/p>\n<p>Kolaborasi antara ITB, Universitas Brawijaya, dan Universitas Musamus Merauke ini menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam menyelesaikan masalah konkret di masyarakat, khususnya di daerah terpencil yang sering kali terlupakan.<\/p>\n<p>Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, inisiatif seperti ini memberikan harapan baru bagi warga Desa Telaga Sari\u2014bahwa air bersih bukan lagi sekadar impian, melainkan hak yang bisa diwujudkan bersama.<\/p>\n<p>Salam<br \/>\nRudi<br \/>\nStaf Sistem Informasi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Air Bersih untuk Perbatasan: Cerita Kolaborasi ITB, UB, dan Universitas Musamus Oleh: Miga Magenika Julian Di ujung timur Indonesia, tepatnya di Desa Telaga Sari, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan besar. Selama bertahun-tahun, masyarakat setempat harus bergantung sepenuhnya pada air hujan yang ditampung di embung untuk memenuhi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1631,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1135,1099,1122,1163,1085,1087,1089],"class_list":["post-14266","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita","tag-sdg10","tag-sdg17","tag-sdg2","tag-sdg3","tag-sdg4","tag-sdg6","tag-sdg7"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1631"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14266"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14266\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14272,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14266\/revisions\/14272"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}