{"id":13250,"date":"2025-08-15T16:04:52","date_gmt":"2025-08-15T16:04:52","guid":{"rendered":"https:\/\/fitb.itb.ac.id\/?p=13250"},"modified":"2025-08-15T16:09:44","modified_gmt":"2025-08-15T16:09:44","slug":"manusia-purba-tiba-di-sulawesi-jauh-lebih-awal-dari-perkiraan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/manusia-purba-tiba-di-sulawesi-jauh-lebih-awal-dari-perkiraan\/","title":{"rendered":"Manusia Purba Tiba di Sulawesi Jauh Lebih Awal dari Perkiraan"},"content":{"rendered":"<p><strong>Manusia Purba Tiba di Sulawesi Jauh Lebih Awal dari Perkiraan<\/strong><\/p>\n<p>Disarikan dari makalah orisinal dan ditulis ulang oleh: Dasapta Erwin Irawan<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan dalam <\/span><a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41586-025-09348-6\"><span style=\"font-weight: 400\">Jurnal <\/span><b>Nature<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, manusia purba ternyata telah menjelajahi pulau-pulau di Indonesia jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Tim ilmuwan internasional, termasuk <\/span><a href=\"https:\/\/itb.ac.id\/staf\/profil\/mika-rizki-puspaningrum\"><span style=\"font-weight: 400\">Dr. Mika Rizki Puspaningrum<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0 dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, menemukan bahwa kerabat manusia purba telah hidup di Sulawesi lebih dari satu juta tahun yang lalu. Penemuan ini secara signifikan mengubah pemahaman kita tentang bagaimana manusia purba menyebar di seluruh dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Bukti tersebut berasal dari alat batu dan tulang hewan yang ditemukan para ilmuwan di Sulawesi. Benda-benda ini sangat tua, berasal dari zaman Pleistosen Awal, masa di mana para ahli sebelumnya mengira hanya ada hewan di sana. Selama ini, diyakini manusia purba baru tiba di pulau-pulau ini jauh lebih belakangan.<\/span><\/p>\n<p><strong>Mengapa ini penting? <\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Salah satunya, Sulawesi dikelilingi oleh lautan dalam. Fakta bahwa manusia purba bisa sampai ke sana menunjukkan mereka punya kemampuan dan keberanian menyeberangi laut, mungkin dengan rakit sederhana. Ini menandakan nenek moyang kita lebih cerdas dan tangguh dari yang kita kira.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Penemuan ini memicu pertanyaan besar: siapakah sebenarnya para penjelajah awal ini? Mungkinkah mereka adalah <\/span><b>Homo erectus<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, manusia pertama yang diketahui keluar dari Afrika? Atau, mungkin ada kelompok lain yang belum kita ketahui?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pertanyaan ini semakin menarik karena <\/span><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/sebuah-kisah-dari-homo-erectus-nenek-moyang-kita-yang-misterius-110508\"><b>Homo erectus<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> juga ditemukan di Jawa. Sementara itu, di bagian selatan ada <\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Homo_floresiensis\"><b>Homo floresiensis<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> dan di utara ada <\/span><a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/majalah-47889582\"><b>Homo luzonensis<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, yang keduanya berukuran kerdil. Berbagai kemungkinan ini membuat para ilmuwan kini bekerja keras mencari petunjuk lebih lanjut untuk mengungkap misteri tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Yang jelas, penemuan ini mengubah <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Early_human_migrations\">cerita migrasi manusia di Asia<\/a>. Ini membuktikan bahwa kerabat jauh kita sudah bergerak, beradaptasi, dan bertahan di lingkungan baru jauh lebih awal dari dugaan. Kisah petualangan sejarah manusia pun jadi semakin menarik.<\/span><\/p>\n<div id=\"attachment_13251\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-13251\" class=\"wp-image-13251 size-large\" src=\"http:\/\/fitb.itb.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/08\/Screenshot-2025-08-15-at-16.40.15-1024x623.png\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"623\" srcset=\"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/08\/Screenshot-2025-08-15-at-16.40.15-1024x623.png 1024w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/08\/Screenshot-2025-08-15-at-16.40.15-300x183.png 300w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/08\/Screenshot-2025-08-15-at-16.40.15-768x468.png 768w, https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2025\/08\/Screenshot-2025-08-15-at-16.40.15.png 1406w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><p id=\"caption-attachment-13251\" class=\"wp-caption-text\">Sulawesi adalah sebuah pulau yang terletak di Wallacea, yaitu gugusan pulau-pulau di antara Asia dan Australia. Pada peta, terlihat bagian barat daya Sulawesi, di mana situs Talepu dan Calio berada di sisi berlawanan Sungai Walanae. Peta ini menggunakan data survei laut dan darat. Sumber data: General bathymetric maps; DEMNAS Badan Informasi Geospasial.<\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manusia Purba Tiba di Sulawesi Jauh Lebih Awal dari Perkiraan Disarikan dari makalah orisinal dan ditulis ulang oleh: Dasapta Erwin Irawan Berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Jurnal Nature, manusia purba ternyata telah menjelajahi pulau-pulau di Indonesia jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Tim ilmuwan internasional, termasuk Dr. Mika Rizki Puspaningrum\u00a0 dari Fakultas Ilmu dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1631,"featured_media":13251,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[888,884,882,886],"class_list":["post-13250","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-human-palaentology","tag-manusia-purba","tag-nature-journal","tag-paleontologi-manusia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13250","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1631"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13250"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13250\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13255,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13250\/revisions\/13255"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13251"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13250"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13250"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/multisite.itb.ac.id\/fitb\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13250"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}